Banjaran, persis.or.id — Pimpinan Cabang Persatuan Islam (PC PERSIS) Banjaran menggelar kegiatan pembinaan calon anggota tahap kedua, sekaligus pleno evaluasi dan penetapan anggota di Aula Kantor Bersama PERSIS Banjaran, Sabtu (30/5/2026).
Kegiatan ini merupakan lanjutan dari Masa Ta'aruf calon anggota yang telah dilaksanakan sebelumnya, yakni pada 24 Mei 2026.
Sebelum para narasumber menyampaikan materi, Bidang Garapan Sumber Daya Insani Jam'iyah (SDIJ) PC PERSIS Banjaran memberikan pengantar dan ulasan terhadap materi-materi yang telah disampaikan pada pertemuan sebelumnya.
Dalam pengantar materi sejarah PERSIS, H. Ana Karmana, menjelaskan bahwa berdirinya organisani PERSIS pada 12 September 1923 dilatarbelakangi oleh kesadaran untuk menjawab tantangan ruang dan waktu yang dihadapi umat.
Karena itu, para pendirinya memilih nama ‘Persatuan Islam’ menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang dekat dengan masyarakat, bukan menggunakan bahasa Arab.
Ia menyampaikan bahwa sejak awal membangun gerakan, PERSIS mendahulukan pembenahan cara berpikir dan bertindak melalui akar utama ajaran Islam, yaitu tauhid.
“Dari fondasi inilah lahir semangat pembaruan (tajdid) yang kemudian menjadi ciri khas perjuangan PERSIS dalam merespons berbagai persoalan umat,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan cermin untuk menentukan arah perjuangan hari ini.
"Di sinilah pentingnya memahami sejarah Persatuan Islam. Buah dari sejarah harus menjadi cermin tindakan jihad pada masa kini," tandasnya.
Materi berikutnya menekankan pentingnya akhlak gerakan PERSIS yang berlandaskan nilai-nilai 'Ibadurrahman. Akhlak tersebut menuntut setiap anggota untuk mengedepankan nilai kemanusiaan di atas sekat-sekat perbedaan.
Ustaz Asep Syahidi Rahmat yang menyampaikan materi tentang akhlak 'Ibadurrahman menegaskan bahwa sifat Ar-Rahman dari Allah Swt mengajarkan kepedulian tanpa diskriminasi.
"Allah tidak pernah pilih kasih. Ketika seseorang membutuhkan bantuan, kita tidak bertanya terlebih dahulu apakah ia kawan atau lawan, apalagi menanyakan kartu tanda anggota," tegasnya.
Kesiapan, Bukan Paksaan
Setelah pemberian materi, pada sesi taujih penutup, Ketua PC PERSIS Banjaran, H. D. Pandi, menegaskan bahwa keanggotaan PERSIS harus lahir dari kesadaran, bukan karena tekanan atau paksaan.
"Saya tidak pernah memaksa siapa pun untuk menjadi anggota. PC PERSIS Banjaran hanya menyediakan ruang kebersamaan untuk mewujudkan cita-cita perjuangan Islam. Karena itu, apabila ada calon anggota yang merasa mendapat tekanan atau paksaan, maka Ia berhak membatalkan niatnya menjadi anggota PERSIS," katanya.
Menurutnya, kesiapan menjadi anggota PERSIS pada hakikatnya adalah kesiapan untuk melanjutkan cita-cita perjuangan jam'iyah dalam menegakkan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Saw.
Evaluasi Ketat Demi Kualitas Kader
Usai kegiatan pembinaan, jajaran tasykil PC PERSIS Banjaran yang dipimpin langsung oleh Ketua PC Banjaran bersama sekretaris, wakil ketua, serta Bidang Garapan SDIJ dan Pengembangan Jam'iyah menggelar pleno evaluasi menyeluruh terhadap seluruh calon anggota.
Evaluasi ini dilakukan berdasarkan tingkat kehadiran peserta selama proses pembinaan, mulai dari peserta yang hadir penuh hingga peserta yang beberapa kali tidak hadir.
Dalam pleno tersebut, disepakati bahwa calon anggota yang tidak hadir dua kali berturut-turut tanpa konfirmasi atau alasan yang dapat dipertanggungjawabkan akan dievaluasi kembali dan berpotensi ditangguhkan proses keanggotaannya.
Berdasarkan hasil pleno, dari 62 calon anggota yang mengikuti proses pembinaan, sebanyak 56 orang ditetapkan sebagai anggota PERSIS Banjaran, sementara sisanya akan menjalani evaluasi lanjutan sesuai ketentuan yang berlaku.
Ketika dimintai tanggapan mengenai kebijakan tersebut, Ustaz Pandi menjelaskan bahwa langkah itu merupakan bagian dari upaya membangun kualitas kader yang istiqamah dalam perjuangan.
"Ini bagian dari ikhtiar mewujudkan do'a 'Allahummaj'al qalilan' yang sering dipahami sebagai harapan,” tandasnya.
[]
Kontributor: Herdiana
BACA JUGA:Tafhim PERSIS Banjaran: Tanamkan Militansi sebagai Ruh Perjuangan