Boikot Parade Hari Israel: Ketegasan Sikap Walikota New York dan Cermin Konsistensi Kemanusiaan

oleh -

02 Juni 2026 | 10:12

Ilustrasi pemuda memegang bendera Palestina. (foto: Ahmed Abu Hameeda/Unsplash)

Oleh: Alfy Isya Muharam, persis.or.id


Gelombang solidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina kian tak terbendung, bahkan di jantung negara yang selama ini menjadi penyokong utama zionisme.


Dalam sebuah langkah bersejarah yang mengejutkan publik Amerika Serikat, Zohran Mamdani, yang saat ini menjabat sebagai Walikota New York, secara terbuka menyatakan menolak untuk menghadiri perayaan tahunan "Parade Hari Israel" (Israel Day Parade).


Sikap berani Mamdani ini menjadikannya sebagai pemimpin pertama dalam sejarah Kota New York yang secara terang-terangan memboikot acara seremonial tersebut. Sebuah keputusan politik yang tidak hanya berani secara elektoral, tetapi juga sarat akan pesan moral yang mendalam.


Bagi masyarakat dunia yang melek sejarah, Parade Hari Israel di New York bukan sekadar festival budaya. Di balik kemeriahannya, ada upaya sistematis untuk menormalisasi pendudukan, mengaburkan fakta genosida, dan memoles citra sebuah rezim yang tangannya masih bersimbah darah anak-anak Gaza.


Mamdani menyadari betul posisi moralnya. Di tengah tekanan politik kaum elit dan lobi-lobi zionis yang begitu kuat di New York, Ia memilih berdiri bersama jutaan suara yang menuntut keadilan bagi Palestina.


Penolakannya bukan sekadar absen fisik dari sebuah pesta, melainkan sebuah pernyataan sikap: bahwa tidak ada ruang bagi perayaan di atas tanah yang dirampas dan darah yang ditumpahkan.


Pesan untuk Umat: Menolak Normalisasi Kezaliman


Langkah yang diambil oleh Zohran Mamdani ini memberikan tamparan keras bagi para pemimpin dunia lainnya yang masih bersikap ambigu atau bahkan bermuka dua terkait isu Palestina.


Jika seorang pemimpin di pusat kekuasaan barat seperti New York saja berani mengambil risiko politik demi menyuarakan kebenaran, lantas alasan apa lagi yang membuat kita abai?


Bagi kita, khususnya warga Persatuan Islam (PERSIS) dan umat Islam secara umum, peristiwa ini menjadi pengingat penting mengenai urgensi konsistensi dalam al-amru bil ma'ruf wan nahyu 'anil munkar di ranah global. Menentang penindasan tidak mengenal batas teritorial maupun sekat formalitas birokrasi.


Kemerdekaan Palestina dan penghapusan penjajahan zionis di atas bumi bukan sekadar urusan domestik Timur Tengah, melainkan amanat konstitusi kemanusiaan dan akidah Islam.


Konsistensi Mamdani dalam menolak normalisasi kezaliman ini harus menjadi cermin bagi kita untuk terus memperkuat narasi pembelaan, memperluas gerakan boikot, dan tidak pernah lelah menyuarakan hak-hak bangsa Palestina yang terjajah.


Panggung sejarah sedang mencatat siapa saja yang memilih diam melihat kezaliman, dan siapa yang berani bersuara lantang menentangnya.


Dan hari ini, dari balik gemerlapnya New York, sebuah pesan tegas telah dikirimkan: keadilan tidak bisa ditawar, dan zionisme tidak akan pernah mendapatkan tempat yang terhormat.


[]

BACA JUGA:

Biadab, PERSIS Kecam Serangan Israel yang Bunuh Dokter Direktur RS Indonesia di Gaza

Reporter: - Editor: Fia Afifah Rahmah