“Cucu-cucu jadi panglima kakek moyang tinggal nama—berbuah buahlah sang padi hatta berubah beras maka janganlah ia dikebiri.”
Bila hendak kita melihat bagaimana nasib Persatuan Islam ke depan, maka lihat Pelajar-Pelajarnya hari ini.
Santri merupakan bagian daripada karakteristik gerakan kepelajaran. Ia menempati ritus-ritus transendental sebagai basis pemahamannya. Dengan ciri, identitas dan simbol nan khas sejak atribut hingga pemikiran, santri dapat diinterpretasikan sebagai salah satu penyangga keteradaban dan peradaban suatu bangsa. Kita dapat melihat kesuksesan, kegigihan, keterpurukan dan siklus keberhasilan-kehancuran tadi pada tubuh santri. Gugur bunga di medan laga, santri taruhannya. Jaya bangsa di sabah negara, santri satu pahlawannya. Kiranya begitulah gambaran telak tentang bagaimana kalangan pembelajar ritus transendental ini menduduki posisi yang diapresiasi historis dalam benak bangsa Indonesia.
Sejak 1943, Santri Persatuan Islam teguh berdiri memperjuangkan panji islam di tengah kondisi keterjajahan masyarakat secara mental maupun fisikal. Persatuan Islam dengan para santrinya berdiri di tengah persimpangan jalan meneriakkan satu problema—ketaqlidan akut, kejumudan abadi yang menjadi akar dari setiap keterhambatan peradaban dan kemajuan suatu bangsa. Kultur literasi ketat yang dibangun bukan semata-mata menjadi penanda bahwa Persatuan Islam hadir bercorak Melayu, akan tetapi ia bertransformasi sebagai simbol bahwasannya misi Persis dengan para santrinya cukup jelas; mengkatalisatori peradaban melalui wacana pembasmian kebodohan.
Santri PERSIS dihadirkan dalam kultur yang cukup dinamis. Mereka memiliki, ‘musuh bersama’ secara jasmaniyyah yakni militer-militer penjajah yang hendak merebut kemerdekaan berpikir umat dan, ‘musuh bersama’ secara fikriyyah di mana hal itu merupakan keterhambatan pikir dalam mengambil gerakan revolusioner pada sistem yang harus diganti secara total. Sistem ibadah yang merenggut kemerdekaan individu dari kemanusiaannya, tradisi yang dicap sebagai positivisme namun pada faktanya merupakan penghancuran atas identitas pribadi umat—menciptakan masifitas dekadensi berpikir serta menghentikan wacana keteradaban kembali umat islam terbuka lebar.
Melalui jargon-jargon, Santri Persis bergembar dan bergembor, melalui ucapan teguh nan mantap, “Bid’ah!” Para Santri mengamini secara tak langsung bahwa kemajuan umat tidak diindikatori oleh seberapa banyak ulama yang berdusta, akan tetapi diindikatori oleh seberapa kuat argumentasi suatu individu terlepas dari titel feudalitas yang kerap berdampak pada perilaku, ‘sungkan’ masyarakat kala mengkritik. Dari gerakan-gerakan tersebut, kita dapat memahami bersama bahwa kompromitas terhadap kedzaliman dan keterbelakangan berpikir dalam Persatuan Islam memiliki nol toleransi. Kekosongan atas toleransi pada ihwal non-argumentatif ini menciptakan kultur saling kritik yang sarat akan makna, menunjukkan bahwa Persatuan Islam tidak riak dalam diam namun bergerilya dalam buana diskusi, mempertahankan idealitas guna mencari satu hal yang disebut dengan kebenaran berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
BACA JUGA:PP IPP dan PP IPPI Resmi Luncurkan Sekolah Ideologi Pelajar PERSIS di Bandung