Oleh: Aay Mohamad Furkon (Ketua Bidang Maliyah dan Ijtimaiyah PP PERSIS)
In Memoriam Prof. Dr. K.H. Maman Abdurahman
Kabar wafatnya Prof. Dr. K.H. Maman Abdurahman 21 Juni 2026 meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Persatuan Islam (PERSIS), umat Islam Indonesia, dan dunia akademik.
Kepergian beliau bukan sekadar kehilangan seorang ulama, tetapi juga kehilangan sosok pendidik, pemikir, dan pemimpin yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk dakwah, pendidikan, dan pengembangan pemikiran Islam.
Namun, bagi banyak orang yang pernah berinteraksi dengannya, Prof. Maman bukan hanya seorang profesor, mantan Ketua Umum PERSIS, atau pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI). Beliau adalah pribadi yang sederhana, hangat, dan sangat membumi.
Saya masih mengingat sebuah peristiwa di kawasan kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat di Jakarta.
Siang itu saya memarkir mobil yang pada pintunya tertulis "Pimpinan Pusat PERSIS" di taman yang berada di seberang kantor MUI. Tiba-tiba seorang pria bertubuh tegap dan rambut dikuncir tampaknya ‘sang’ pengelola area parkir tersebut menyapa saya.
"Assalamu'alaikum, apa kabar, Kiai?" sapanya.
"Wa'alaikumussalam, alhamdulillah baik," jawab saya.
Lalu ia bertanya, "Saya pikir Kiai Maman."
Saya sempat terdiam sambil berpikir. Dalam bayangan saya, seorang ulama sekaliber Prof. Maman yang sudah lumayan sepuh tentu datang dengan diantar dan dijemput kendaraan resmi atau diantar sopir. Kok sekarang, seorang ‘preman’ mengenalnya dan kelihatannya akrab, hal ini membuat saya penasaran.
"Kenal Kiai Maman dari mana?" tanya saya.
"Saya kenal di sini," jawabnya mantap.
"Jangan-jangan salah orang?," tanyaku ragu
"Gak mungkin salah. Badannya kecil, sering pakai batik. Beliau sendiri yang sering bilang, saya orang PERSIS."
Saya mulai tertarik mendengarkan ceritanya.
"Ane yang sering dimintain nyegatin ojek atau Grab kalau beliau mau pulang," lanjutnya.
Saya pun mengangguk pelan. Cerita itu terasa masuk akal. Sebab saya memang mengenal Prof. Maman sebagai sosok yang tidak pernah terlalu memedulikan atribut sosial yang melekat pada dirinya.
Tidak jarang beliau datang ke kantor Pimpinan Pusat PERSIS menggunakan ojek daring atau bahkan meminta dibonceng petugas kantor untuk menghadiri sebuah acara. Padahal organisasi menyediakan fasilitas kendaraan yang memadai.
Kesederhanaan itu bukan dibuat-buat. Ia lahir dari karakter beliau yang memang apa adanya.
Mencairkan Sekat di MUI
Sebagai organisasi Islam besar yang dikenal memiliki tradisi intelektual kuat dan sikap keagamaan yang tegas, aktivis PERSIS sering kali dipersepsikan kaku oleh sebagian kalangan. Namun Prof. Maman menghadirkan wajah yang berbeda.
Beliau mampu menjembatani berbagai kelompok dan mencairkan suasana dalam forum-forum lintas organisasi.
Suatu hari saat jeda sebuah rapat di MUI Pusat, saya melihat Prof. Maman dikerumuni sejumlah kiai muda maupun senior dari berbagai organisasi Islam. Saya mengira mereka sedang membahas persoalan keumatan yang serius.
Karena penasaran, saya mendekat.
Ternyata yang sedang dibahas adalah poligami.
Dengan senyum khasnya, Prof. Maman berkata, "Yang poligami itu ulama, umara, dan aghniya yang syuja' (pemberani)."
Para peserta mulai tersenyum.
Beliau melanjutkan,
"Maka yang tidak poligami berarti fuqara, masakin, dan juhala."
Tawa mulai pecah.
Belum selesai, beliau menambahkan,
"Atau ulama, umara, dan aghniya, tapi minal kha'ifin, golongan yang penakut."
Ruangan pun riuh oleh gelak tawa. Banyak peserta yang merupakan ulama dan pengurus MUI merasa "tersindir" dengan cara yang jenaka dan elegan.
Memang demikianlah Prof. Maman. Ia mampu menyampaikan sesuatu yang sensitif sekalipun dengan humor yang cerdas sehingga tidak menimbulkan ketegangan.
Dalam berbagai forum, terutama saat sesi diskusi, beliau juga sering memperkenalkan diri dengan cara yang mengundang senyum.
"Saya Maman dari PERSIS, tapi bukan PERSIS Solo."
Para peserta biasanya langsung tertawa.
Beliau kemudian melanjutkan,
"Dan bukan juga Maman Abdurrahman bek Persib yang sekarang pindah ke Persija."
Humor-humor sederhana seperti itulah yang membuat beliau mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Konsisten dalam Pemikiran
Di balik kepribadiannya yang hangat, Prof. Maman adalah seorang ulama yang teguh memegang prinsip.
Salah satu contoh yang sering disampaikan adalah pandangannya mengenai rokok.
Meskipun keputusan banyak ulama menetapkan hukum rokok sebagai makruh, Prof. Maman secara pribadi berpendapat bahwa rokok lebih tepat dihukumi haram karena mudaratnya jauh lebih besar daripada manfaatnya.
Pandangan itu beliau sampaikan secara konsisten dalam berbagai ceramah dan kajian.
Dengan argumentasi ilmiah, pendekatan fikih yang kuat, serta kemampuan retorika yang baik, beliau menjelaskan bahwa dari sisi kesehatan, ekonomi, maupun kemaslahatan keluarga, rokok membawa lebih banyak kerusakan daripada manfaat.
Konsistensi seperti itulah yang menjadi ciri khas beliau sebagai ulama sekaligus akademisi.
Jejak Intelektual yang Panjang
Prof. Maman Abdurahman lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada 7 Agustus 1948 dari keluarga sederhana.
Beliau menempuh pendidikan keagamaan di Pesantren PERSIS Pajagalan Bandung di bawah bimbingan K.H.E. Abdurahman. Setelah itu melanjutkan studi di Fakultas Syariah Universitas Islam Bandung (Unisba).
Kehausannya terhadap ilmu membawanya melanjutkan pendidikan magister di Sudan, tepatnya di Khartoum International Institute for Arabic Language. Gelar doktor kemudian diraih dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 1998.
Beliau tercatat sebagai salah satu alumni Pesantren PERSIS pertama yang berhasil meraih gelar doktor dan kemudian menyandang jabatan akademik tertinggi sebagai guru besar di Unisba.
Disertasinya diterbitkan menjadi buku berjudul Perkembangan Pemikiran Hadis. Selain itu, beliau juga menghasilkan berbagai karya ilmiah penting seperti Peranan Ilmu Jarh wa Ta'dil Memelihara Hadis, Dinamika Fikih Islam, Teori Hadis, dan sejumlah karya lainnya.
Dalam dunia pendidikan, beliau mengajar di Pascasarjana Unisba, Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, serta Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Dalam organisasi, beliau mengemban amanah sebagai Ketua Umum PP PERSIS periode 2010–2015, Ketua Majelis Penasihat PP PERSIS periode 2022–2027, serta Ketua MUI Pusat Bidang Pengkajian dan Penelitian.
Pelajaran Terakhir dari Sebuah Kamar Hotel
Di antara banyak kenangan bersama beliau, ada satu peristiwa yang sulit saya lupakan.
Pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) di Kepulauan Bangka Belitung tahun 2020, saya mendapat kesempatan menginap satu kamar dengan Prof. Maman.
Malam itu beliau sudah lebih dahulu berada di kamar. Lampu dimatikan. Tubuhnya tertutup selimut putih hingga kepala, sementara kedua tangannya berada di atas perut.
Ketika saya masuk dan menyalakan lampu, jantung saya berdegup kencang. Sekilas yang saya lihat bukan orang tidur, melainkan seperti jenazah yang sedang terbujur.
"Astagfirullah..."
Saya berdiri mematung beberapa saat.
Mau membangunkan takut mengganggu. Tidak dibangunkan, saya khawatir terjadi sesuatu.
Akhirnya saya menemukan cara. Saya menyalakan televisi dengan volume agak keras.
Beberapa saat kemudian sosok di balik selimut itu bergerak.
Kepalanya muncul dari balik selimut.
Ternyata Prof. Maman.
"Prooof..." sapa saya perlahan.
"Heemm...," jawabnya lirih.
Saya segera meminta maaf.
Menjelang pukul tiga dini hari saya terbangun. Tempat tidur beliau kosong. Tak lama kemudian saya melihat beliau sedang menunaikan shalat tahajud dengan penuh kekhusyukan.
Pagi harinya saya bertanya,
"Prof, kenapa tidurnya sampai menutupi kepala begitu? Saya kira tadi malam ada mayat."
Beliau tersenyum lalu menjawab singkat,
"Tiris (dingin)."
Kemudian beliau menambahkan kalimat yang hingga hari ini masih terngiang di telinga saya,
"Kita semua bakal meninggal."
Kalimat sederhana itu kini terasa seperti pesan terakhir.
Hari ini, beliau telah mendahului kita menghadap Sang Khalik.
Namun ilmu, keteladanan, kesederhanaan, dan perjuangannya akan terus hidup dalam ingatan murid-muridnya, kolega-koleganya, serta umat yang pernah merasakan manfaat dari kehadirannya.
Selamat jalan, Prof. Dr. K.H. Maman Abdurahman.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal saleh, mengampuni segala khilaf, melapangkan kuburnya, serta menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
[]
BACA JUGA:Mengenang Prof. Dr. K.H. Maman Abdurrahman, M.A.: Ulama Intelektual, Akademisi Mumpuni, dan Ketua Umum PERSIS yang Bersahaja.