Bandung, persis.or.id - Badan Pendidikan dan Pelatihan Kader (Badiklat) PP Persatuan Islam (PERSIS) menerapkan sistem evaluasi pelatihan yang komprehensif untuk mengukur efektivitas program pembinaan kader jamiyyah.
Dalam paparan evaluasi yang disampaikan di Jakarta (17/1), Badiklat mengadopsi model evaluasi pelatihan berdasarkan teori Bushnell yang mencakup empat tahapan utama, yaitu input, process, output, dan outcome. Model evaluasi ini dirancang untuk mengukur tidak hanya aspek teknis pelaksanaan pelatihan, tetapi juga dampak jangka panjang terhadap kualitas kader dan kontribusinya bagi organisasi.
Dimensi output menjadi fokus utama dalam evaluasi pelatihan Badiklat dengan menggunakan tiga indikator pengukuran yang terukur dan terstruktur. Indikator pertama adalah Trainee Reaction yang mengukur tingkat kepuasan peserta pelatihan melalui kuesioner dengan skala rating 1-5, mulai dari sangat tidak puas hingga sangat puas.
Indikator kedua adalah Knowledge and Skill Gained yang mengukur perolehan pengetahuan peserta melalui mekanisme pretest dan posttest untuk melihat gap peningkatan pemahaman sebelum dan sesudah pelatihan. Sementara indikator ketiga adalah Improved Job Performance yang mengukur perbaikan perilaku berjamiyyah melalui metode observasi yang melibatkan self-assessment alumni peserta dan penilaian dari pengurus jamiyyah.
Kuesioner pengukuran tingkat kepuasan peserta dirancang mencakup enam aspek penting pelaksanaan pelatihan. Aspek-aspek tersebut meliputi momentum kegiatan pelatihan yang sangat diharapkan, relevansi topik bahasan dengan kebutuhan berjamiyyah, manfaat materi untuk kehidupan pribadi dan keluarga, interaksi dan silaturahmi yang membangun kekompakan, kemampuan narasumber dalam menguasai dan menyampaikan materi, serta suasana pelatihan yang kondusif dan menyenangkan. Sistem penilaian menggunakan rating persetujuan dengan skor 1-100 yang memberikan gambaran objektif tentang kualitas penyelenggaraan pelatihan.
Evaluasi perbaikan perilaku berjamiyyah menjadi dimensi krusial yang mengukur dampak nyata pelatihan terhadap kehidupan kader pasca mengikuti program. Kuesioner observasi mencakup delapan aspek perilaku, antara lain partisipasi dalam aktivitas rutin jamiyyah, keterlibatan dalam kegiatan insidentil, penunaian kewajiban termasuk iuran anggota, tanggung jawab menjaga nama baik organisasi, kebiasaan berbagi dan berinfak, konsistensi shalat wajib, kerajinan shalat sunnah khususnya tahajjud, serta upaya menjaga diri dan keluarga dengan amar makruf nahi munkar. Penilaian dilakukan dengan skala 1-5 mulai dari tidak pernah hingga selalu, yang memberikan gambaran konkret tentang perubahan perilaku kader.
Model evaluasi komprehensif ini diharapkan dapat menjadi instrumen strategis dalam meningkatkan kualitas pelatihan Badiklat PP PERSIS secara berkelanjutan. Dengan mengukur tidak hanya kepuasan dan pengetahuan peserta, tetapi juga perubahan perilaku nyata dalam berjamiyyah, Badiklat dapat melakukan perbaikan program secara terukur dan terencana.
Sistem evaluasi ini juga memungkinkan Badiklat untuk mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan, sekaligus memastikan bahwa setiap program pelatihan memberikan kontribusi maksimal dalam mencetak kader yang militan, loyal, dan berkontribusi aktif bagi kemajuan Persatuan Islam.
BACA JUGA:Badiklat PP PERSIS Gelar TOT Nasional Kaderisasi Tafhim, Cetak Instruktur Unggul Se-Indonesia