HIMA PERSIS Dorong Restorasi Lanskap Regeneratif sebagai Jalan Keluar Krisis Longsor dan Banjir

oleh Redaksi

27 Januari 2026 | 11:16

Rizal Asad (Kepala Bidang Lingkungan Hidup PP HIMA PERSIS)

Dalam pernyataan sikapnya, HIMA PERSIS mengingatkan bahwa persoalan lingkungan telah lama mendapatkan perhatian dalam ajaran Islam. Allah SWT berfirman:


“Ẓaharal fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aydin-nās”

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.”

(QS. Ar-Rum: 41)


Ayat tersebut merupakan peringatan tegas bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi hari ini adalah konsekuensi dari perilaku manusia yang mengabaikan amanah sebagai khalifah di bumi. Oleh karena itu, bencana ekologis tidak hanya harus dipandang sebagai persoalan teknis, tetapi juga sebagai krisis moral dan spiritual.


Aktivitas manusia modern abad ke-21 semakin memperlihatkan wajah ketidakpedulian terhadap lingkungan. Lemahnya kesadaran ekologis, minimnya pemahaman tentang daya dukung alam, serta penegakan hukum yang tumpul terhadap perusakan lingkungan berskala besar mempercepat kehancuran ekosistem. Pada titik ini, krisis lingkungan tidak dapat dipisahkan dari krisis spiritual; krisis cara manusia memaknai dirinya sebagai bagian dari alam, bukan penguasanya.


Fragmentasi antara agama dan alam melahirkan cara pandang keliru: bahwa urusan lingkungan bukan urusan spiritual. Padahal, krisis ekologi yang kita hadapi hari ini seperti banjir, longsor, perubahan iklim, pemanasan global, hingga degradasi sumber daya adalah konsekuensi langsung dari rusaknya relasi manusia dengan ciptaan Tuhannya.


Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini tidak berdiri sendiri. Ia merusak tanah, mencemari air, memusnahkan vegetasi, merusak kualitas udara, dan mengancam keberlangsungan hidup hewan serta manusia itu sendiri. Bumi seakan kehilangan martabatnya akibat eksploitasi yang terus-menerus, hingga menjadi ruang yang semakin tidak aman untuk ditinggali.


HIMA PERSIS menilai bahwa selama ini penanganan banjir masih cenderung bersifat reaktif dan berfokus pada wilayah hilir, seperti normalisasi sungai, pengerukan, dan betonisasi. Pendekatan tersebut dinilai belum menyentuh akar persoalan, bahkan berpotensi memperparah kerusakan ekosistem dalam jangka panjang. Banjir hari ini bukan sekadar berita. Ia adalah pesan keras dari alam dan panggilan bagi kita semua untuk kembali menata relasi dengan bumi, dengan kesadaran ekologis, spiritual, dan tanggung jawab bersama.

BACA JUGA:

Sekolah Ristek HIMA PERSIS Jakarta Gandeng DPRD DKI Tingkatkan Kualitas SDM Kampus Swasta

Reporter: Redaksi Editor: Fia Afifah Rahmah