Pesan K.H. Jeje Zaenudin di Konferensi Ulama: PERSIS Harus Berpikir Global dan Membangun Peradaban

oleh Henri Lukmanul Hakim

23 Juni 2026 | 17:55

Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS), Dr. K.H. Jeje Zaenudin, M.Ag.

Bandung, persis.or.id - Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS), Dr. K.H. Jeje Zaenudin, M.Ag menegaskan bahwa PERSIS harus melakukan transformasi besar dalam gerakan dakwah agar mampu menjawab tantangan zaman dan berkontribusi bagi peradaban global.


Hal itu disampaikan saat memberikan sambutan pada kegiatan Konferensi Nasional Ulama dan Cendekiawan PERSIS di Aula Kantor PP PERSIS, Bandung, Selasa (16/6/2026).


Menurutnya, sejak didirikan, PERSIS tidak dibangun hanya untuk menjawab persoalan lokal masyarakat Bandung atau Jawa Barat, melainkan hadir untuk memberikan solusi atas persoalan umat secara luas dengan berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah.


"PERSIS tidak boleh berpikir lokal dalam cita-cita, meskipun bekerja dan berjuang dari lingkungan yang paling kecil dan dekat. Kita harus bertindak dari Indonesia, tetapi berpandangan untuk kemaslahatan dunia," ujarnya.


Ia menjelaskan, secara ideologis dan konseptual, dakwah yang berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah memiliki relevansi universal karena ditujukan untuk seluruh umat manusia tanpa batas geografis, budaya, maupun zaman.


Karena itu, lanjutnya, orientasi dakwah PERSIS harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat, mulai dari kalangan akar rumput hingga kelompok strategis yang berada di pusat-pusat pengambilan keputusan.


"Dakwah tidak hanya ditujukan kepada kelompok tertentu. Dakwah Islam adalah risalah rahmatan lil alamin yang harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat, dari masyarakat desa hingga kota, dari santri hingga profesional, dari generasi tua hingga generasi digital," katanya.


Ia menilai, tantangan dakwah saat ini tidak lagi hanya berada di ruang-ruang keagamaan tradisional. Menurutnya, pusat-pusat ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, media, dan kebijakan publik justru menjadi medan dakwah yang sangat strategis.


"Oleh karena itu, dakwah harus hadir di kampus-kampus, pusat riset, industri digital, ruang kebijakan publik, media massa, dan forum-forum global," tandasnya.


Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Jeje juga menggarisbawahi pentingnya transformasi orientasi dakwah dari sekadar gerakan tabligh atau penyampaian pesan keagamaan menuju gerakan tatbiq, yakni implementasi nilai-nilai Islam yang mampu menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.


Menurutnya, keberhasilan dakwah tidak cukup diukur dari banyaknya lembaga pendidikan, mubaligh, atau kader yang dimiliki organisasi. Yang lebih penting adalah kualitas sumber daya manusia serta dampak yang dihasilkan bagi umat dan bangsa.


"Pertanyaan yang lebih mendasar adalah seberapa besar pengaruhnya terhadap kemajuan umat, seberapa luas manfaatnya bagi bangsa dan kemanusiaan, serta seberapa besar kontribusinya dalam membangun peradaban yang adil, berilmu, bermoral, dan berkemajuan," tegasnya.


Untuk mewujudkan transformasi tersebut, Ia menawarkan lima tahapan strategis yang perlu ditempuh PERSIS. Pertama, transformasi cara berpikir dari organisasi lokal menuju gerakan peradaban. Kedua, transformasi kaderisasi yang mampu melahirkan kader berintegritas, berilmu, dan profesional.


Ketiga, transformasi dakwah berbasis keilmuan dan data agar mampu membaca perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta dinamika global.


Keempat, transformasi kelembagaan melalui penguatan pesantren, sekolah, perguruan tinggi, lembaga ekonomi, dan lembaga sosial sebagai pusat-pusat keunggulan.


Dan tahap kelima adalah transformasi pengaruh peradaban, yakni menjadikan dakwah sebagai instrumen untuk membentuk manusia unggul, melahirkan ilmu yang bermanfaat, membangun ekonomi yang bermartabat, menghasilkan teknologi yang maslahat, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kemanusiaan.


"Tahap tertinggi dakwah adalah membangun peradaban. Dakwah harus mampu menghadirkan solusi dan manfaat yang dirasakan masyarakat luas," paparnya.


Menutup sambutannya, Usta Jeje juga mengingatkan bahwa kejayaan umat Islam pada masa lalu tidak dibangun semata-mata oleh jumlah pengikut yang besar, tetapi oleh kualitas manusia, ilmu pengetahuan, akhlak, dan kontribusinya terhadap peradaban dunia.


Karena itu, Ia menilai, tantangan terbesar PERSIS pada abad ini bukan sekadar mempertahankan eksistensi organisasi, melainkan mentransformasikan diri menjadi gerakan dakwah yang mampu menjawab persoalan zaman dan memberikan solusi bagi umat manusia.


"Semoga Konferensi Nasional Ulama dan Cendekiawan ini menjadi momentum lahirnya gagasan-gagasan besar, langkah-langkah strategis, dan komitmen bersama untuk mengantarkan PERSIS menuju peran yang lebih luas, lebih kuat, dan lebih bermakna dalam membangun Indonesia dan peradaban Islam masa depan," pungkasnya.


[]

BACA JUGA:

Bidang Maliyah Sebut Capaian PP PERSIS Hasil Soliditas dari Ekspansi Organisasi hingga LPH Bertaraf Internasional