Oleh: Dadan Wildan Anas (Sekretaris Majelis Penasihat PP PERSIS)
Ahad pagi, 21 Juni 2026, saya telah berada di lingkungan Mesjid Kantor Pimpinan PusatPersatuan Islam (PP PERSIS) Jalan Perintis Kemerdekaan No. 2 Kota Bandung untuk menghadiri Pengajian Ahad (Jihad).
Sebagaimana biasanya, setiap Ahad pagi, di Mesjid yang juga kantor pusat PP PERSIS itu digelar Pengajian Ahad yang telah berlangsung lebih dari 25 tahun sejak tahun 2000.
Pagi itu, saya mengikuti jihad dengan penceramah KH. Drs. Uus Muhammad Ruhiyat. Ribuan jamaah telah memadati masjid dan ruas Jalan Perintis Kemerdekaan yang ditutup sejak pagi hingga pengajian berakhir.
Belum lama berselang, tiba-tiba notifikasi dari banyak grup WhatsApp mengabarkan kabar duka, Prof. Dr. KH. Maman Abdurrahman, MA., Ketua Umum PP PERSIS (2010-2015) dan Ketua Majelis Penasehat PP PERSIS (2015-2020/2022 dan 2022-2027) wafat pukul 06.50. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Saya kaget bukan main. Beberapa hari sebelumnya, saya beserta seluruh anggota Majelis Penasehat PP PERSIS pada Kamis, 18 Juni 2026 mengikuti musyawarah rutin Majelis Penasehat. Musyawarah itu, biasanya dipimpin oleh Ketua Majelis, Prof. Maman Abdurrahman.
Hari itu, beliau tidak dapat hadir, karena cukup lama menderita sakit dan berkali kali dirawat di RS Muhammadiyah Bandung. Musyawarah itu akhirnya dipimpin KH. Dr. Uyun Kamiludin, MH sebagai Wakil Ketua Majelis Penasehat.
Usai rapat, kami berencana menjenguk Ustaz Abdurrahman---biasa kami memanggilnya, namun informasi dari pihak keluarga, belum dapat dijenguk.
Ternyata takdir menentukan lain. Pada Ahad pagi, 21 Juni 2026, keluarga besar jamiyyah PERSIS, umat Islam Indonesia, dan dunia akademisi Islam kehilangan salah seorang putra terbaiknya.
Prof. Dr. K.H. Maman Abdurrahman, M.A., wafat setelah puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk dakwah, pendidikan, pengembangan pemikiran Islam, dan pemberdayaan umat.
Kabar duka ini juga memperoleh ungkapan belasungkawa dari berbagai organisasi Islam di Indonesia, yang mengenangnya sebagai sosok pemersatu, ulama yang bersahaja, sekaligus cendekiawan yang produktif.
Tentu saja, kepergian Ustaz Abdurrahman, bukan saja kehilangan seorang tokoh Islam dan akademisi, melainkan kehilangan seorang ulama dan guru besar ahli hadis yang berhasil memadukan kedalaman ilmu agama dengan keluasan wawasan akademik.
Dalam diri Ustaz Abdurrahman berpadu karakter ulama pesantren, intelektual kampus, organisator, dan pemikir yang mampu menjembatani tradisi keislaman dengan tantangan masyarakat global.
Aktivitas Ulama Intelektual
Ustaz Abdurrahman lahir di Kawali, Kabupaten Ciamis, pada 7 Agustus 1948. Sejak kecil beliau tumbuh dalam lingkungan religius yang membentuk kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan dan dakwah Islam.
Dikenal sebagai pribadi sederhana, disiplin, dan memiliki komitmen tinggi terhadap perjuangan PERSIS. Kesederhanaan itu tetap melekat meskipun telah mencapai puncak karier akademik sebagai guru besar maupun pucuk pimpinan PERSIS, salah satu organisasi Islam terbesar dan tertua di Indonesia.
Sosoknya sederhana, tawadu, dan selalu riang gembira. Jika diperlukan, kemanapun pergi, tidak sungkan naik ojek. Ia tidak pernah mau merepotkan orang lain.
Ustaz Abdurrahman seringkali menceritakan kisahnya awal masuk pesantren PERSIS di Jalan Pajagalan Bandung. Di masa remaja, Ia bertualang dari kota kecil Ciamis ke kota Bandung untuk menuntut ilmu, dan menjadi santri di Pesantren PERSIS. Ia menjadi santri ideologis langsung dari KH. E. Abdurrahman, Ketua Umum PP PERSIS (1962-1983).
Semangat belajarnya sangat besar. Dari pesantren PERSIS, Ia melanjutkan studinya di Fakultas Syariah Universitas Islam Bandung (UNISBA) dan menjadi dosen di almamaternya itu hingga akhir hayatnya.
Perjalanan Pendidikan yang dilalui Ustaz Abdurrahman menunjukkan perpaduan antara pendidikan pesantren dan pendidikan tinggi modern. Ustaz Abdurrahman memulai pendidikan formal di SD Kawali dan SMP Negeri Kawali, sambil memperdalam ilmu agama di berbagai pesantren di Ciamis.
Selanjutnya belajar di tingkat Mu'allimin Pesantren Persatuan Islam Bandung sebelum menyelesaikan pendidikan Aliyah. Pada tahun 1976 memasuki Fakultas Syariah di Unisba.
Semangat menuntut ilmu membawanya melanjutkan studi ke luar negeri hingga memperoleh gelar Master of Arts (M.A.) dari Universitas Liga Arab Khartoum International Institute for Arabic Language Sudan. Kemudian menyelesaikan program Doktor di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1998.
Ustaz Abdurrahman, menjadi salah satu alumni Pesantren PERSIS pertama yang berhasil meraih jabatan fungsional guru besar (Profesor) di Unisba. Sebagai akademisi, beliau aktif mengajar, membimbing mahasiswa, menjadi narasumber seminar baik nasional maupun internasional, serta menghasilkan berbagai karya ilmiah dalam bidang pemikiran Islam.
Hal lain yang jarang ditemui dari seorang guru besar, setiap usai shalat subuh Ia mengajar ngaji di masjid Ar-Risalah Tegallega Kota Bandung.
Ketua Umum PERSIS yang Sederhana
Di jamiyyah PERSIS, saya mengenal Ustaz Abdurrahman lebih dari 30 tahun lalu. Ketika saya diamanahi Sekretaris Umum PP PERSIS mendampingi KH. Shiddiq Amien Allahu yarham sebagai Ketua Umum PP PERSIS (2000-2005), saya mengenalnya sebagai Ketua Bidang Tarbiyah PP PERSIS dan kemudian menjadi Pelaksana Tugas Ketua Umum PP. PERSIS menggantikan almarhum K.H. Shiddiq Amien.
Dalam Muktamar ke-XIV PERSIS di Tasikmalaya tahun 2010, Ustaz Abdurrahman terpilih sebagai Ketua Umum PP PERSIS periode 2010–2015. Pada periode 2015-2020/2022 dan 2022-2027, saya diamanahi Sekretaris Majelis Penasehat mendampingi Ustaz Abdurrahman sebagai Ketua Majelis Penasehat PP PERSIS.
Kepemimpinannya membawa berbagai pembaruan jam’iyyah PERSIS, antara lain: memperkuat tata kelola organisasi; memperluas dakwah PERSIS ke berbagai daerah di luar Pulau Jawa; mengembangkan pendidikan tinggi PERSIS; memperkuat kemandirian ekonomi umat melalui berbagai program; memperluas kerja sama dengan pemerintah, perguruan tinggi, dan organisasi kemasyarakatan Islam lainnya.
Pada masa kepemimpinannya pula, PERSIS semakin aktif dalam forum-forum nasional dan memperoleh pengakuan luas sebagai organisasi Islam yang terbuka terhadap dialog dan kerja sama tanpa meninggalkan prinsip-prinsip perjuangannya.
Di tingkat nasional, Ustaz Abdurrahman dipercaya menjadi salah seorang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pengkajian dan Penelitian Periode 2015–2020. Amanah itu menunjukkan besarnya kepercayaan umat terhadap integritas dan kapasitas keilmuan beliau.
Ustaz Abdurrahman juga dikenal sebagai ulama yang produktif menulis. Tema-tema yang ditulisnya sangat beragam tidak hanya berkisar pada fikih ibadah, tetapi juga merambah persoalan sosial, politik, lingkungan hidup, dan peradaban Islam. Dalam berbagai ceramahnya, yang paling sering disinggungnya adalah masalah bahaya merokok.
Di bidang akademis, Ustaz Abdurrahman pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Persatuan Islam, Direktur Pascasarjana Unisba, dan guru besar Unisba.
Beberapa karya penting yang mewarnai khazanah keilmuan dan keislaman hasil karyanya antara lain: Politik dalam Islam: Ibrah Tarikhiyah wal Ru'yah Waqi'iyah, yang membahas hubungan Islam, politik, dan kehidupan berbangsa; Ekoterorisme: Membangun Paradigma Fikih Lingkungan, yang memperlihatkan kepedulian beliau terhadap isu lingkungan hidup dari perspektif syariat Islam. Karya lainnya adalah; Perkembangan Pemikiran Hadis; Peranan Ilmu Jarh dan Ta’dil Memelihara Hadis; Dinamika Fiqih Islam; dan Teori Hadis.
Pemikirannya dituangkan dalam berbagai artikel ilmiah mengenai pendidikan Islam, dakwah, pemikiran Persatuan Islam, kepemimpinan umat, dan fikih kontemporer. Ia pun penulis tetap di Majalah Risalah yang diterbitkan PERSIS.
Kepeduliannya terhadap lingkungan hidup bahkan menjadikannya dikenal sebagai salah seorang ulama yang mengembangkan konsep fikih lingkungan, jauh sebelum isu ekologi menjadi perhatian luas di Indonesia. Baginya menjaga alam merupakan bagian dari ibadah dan amanah keagamaan.
Ustaz Abdurrahman meyakini bahwa kemajuan umat hanya dapat dicapai melalui tiga kekuatan utama: ahlak, ilmu, dan organisasi. Karena itu, selama memimpin PERSIS selalu mendorong modernisasi manajemen organisasi tanpa meninggalkan identitas dakwah dan tajdid yang menjadi ciri khas jamiyyah Persatuan Islam.
Ia juga dikenal sebagai tokoh yang mampu membangun komunikasi dengan berbagai kalangan baik dari kalangan ulama, akademisi, birokrat, maupun organisasi Islam lainnya, sehingga PERSIS semakin diterima sebagai mitra strategis baik oleh pemerintah maupun oleh sesama organisasi Islam.
Putranya, Prof. Hilman Latief, Ph. D malah aktif di Muhammadiyah sebagai Bendahara Umum PP Muhammadiyah dan Pernah menduduki jabatan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama RI (2021-2025).
Kepergian Prof. Dr. K.H. Maman Abdurrahman, M.A. meninggalkan duka yang mendalam bagi kita semua. Namun, jejak perjuangan, warisan pemikiran, dan sirah jihadnya akan tetap hidup melalui ribuan murid, mahasiswa, dan kader PERSIS, serta lembaga pendidikan yang pernah dibinanya.
Ustaz Abdurrahman telah menunjukkan bahwa seorang ulama tidak hanya berkhotbah di berbagai mimbar, tetapi juga membangun peradaban melalui pendidikan, organisasi, penelitian, dan keteladanan. Saya terkesan dengan penampilan sederhananya, ketawaduannya, kebijaksanaannya, penampilannya yang eksentrik, dan kami terkadang memanggilnya Babeh.
Selamat jalan Ustaz, Semoga Allah Swt. menerima seluruh amal salehnya, mengampuni segala kekhilafannya, dan melapangkan alam kuburnya. Amal jariyah yang Ustaz tanam semasa hidup, senantiasa mengalir deras.
Semoga perjuangan dan pemikiran Ustaz terus menjadi inspirasi bagi generasi penerus Persatuan Islam dan umat Islam Indonesia. Tidak terasa air mata menetes mengakhiri tulisan ini.
[]
BACA JUGA:Innalillahi! Keluarga Besar PERSIS Berduka, Ulama dan Cendekiawan Prof. KH. Maman Abdurrahman Wafat