Harapan Orang Tua kepada Barisan Muda PERSISIAN

oleh Henri Lukmanul Hakim

07 Juni 2026 | 13:24

Pemuda PERSIS, unsur Barisan Muda PERSISIAN (Foto : Dok. persis.or.id)

Oleh: CR Nurdin, Penasihat PW PERSIS Banten


Manusia Pengendali Dunia


Masa depan peradaban kita memang sedang dipertaruhkan pada abad ke-21 ini. Namun, dengan melihat teras PP PERSIS sedang memikirkan generasi pelanjut harakah tajdid (gerakan pembaharuan) berikutnya, dan sambil merangkul teknologi tanpa kehilangan jati diri, rasanya kita bisa sedikit bernafas lega.


Globalisasi tidak bisa dihindari, memang, sehingga diperlukan sikap positif, optimisme, dan fleksibilitas. Kita bisa belajar dari ide dan sistem baru di seluruh dunia. Soal teknologi dan AI, itu ibarat the man behind the gun. Tergantung cara kita menempatkannya.


Dulu, PT Telkom punya logo bola dunia dalam genggaman kedua tangan. Itu artinya, manusialah yang harus mengendalikan dunia (termasuk teknologi), bukan dunia yang mengendalikan manusia.


Dalam logo PT Telkom yang baru, sejak tahun 2019, masih ada gambar lima jari tangan manusia, dengan slogan resmi the world in your hand. Pesan moralnya, boleh jadi tetap, manusia pengendali dan penerima manfaat teknologi.


Kokoh dan Tumbuh


PERSIS punya kader yang dibina terus-menerus, dilatih jadi anak muda mandiri dengan status badan otonom. Ada Pemuda PERSIS, Pemudi PERSIS, HIMA PERSIS, dan HIMI PERSIS. Mereka kita sebut saja Barisan Muda PERSISIAN, maksudnya, barisan muda yang akan jadi pelanjut hakah tajdid PERSIS.


Barisan Muda PERSISIAN, diam-diam, tampaknya, kini sedang mengalami masa upgrade besar-besaran. Mereka tidak lagi dicap sebagai anak muda yang hobi berdebat soal bid’ah di pos ronda, melainkan bertransformasi jadi kader peradaban digital yang adaptif, namun tetap memegang teguh Al-Qur’an dan As-Sunnah.


Untuk sekadar contoh, belum lama ini, lewat momen Muktamar XIV Pemuda PERSIS di Soreang, Kabupaten Bandung (Jawa Barat), arah gerak Pemuda PERSIS sudah semakin terlihat. Boleh jadi, ini representasi Barisan Muda PERSISIAN.


Slogan Muktamar XIV Pemuda PERSIS itu singkat, padat, dan bermakna, tentang kokoh dan tumbuh: "Kokoh Identitasnya, Tumbuh Gerakannya.".  Kalau mau ditelisik, begitulah kiranya gaya hidup dan gerakan Barisan Muda PERSISIAN khususnya sekarang ini.


Barisan Muda PERSISIAN paham, tantangan bukan lagi takhayul, bid’ah, dan khurafat konvensional, seperti yang dihadapi para orang tua dulu, melainkan juga algoritma media sosial dan banjir informasi di jagat raya komunikasi.


Bagi Barisan Muda PERSISIAN, soal fikih sudah dianggap selesai di Dewan Hisbah, tidak perlu dibahas lagi. Namun, soal-soal kontemporer yang menyangkut sosial dan politik, bahkan isu-isu nasional dan internasional, sering mereka angkat sebagai bahan diskusi.


Barisan Muda PERSISIAN, tampaknya pula, kini mulai keluar dari zona nyaman tempat pengajian rutin. Mereka melihat, tempat berkumpul anak muda zaman sekarang di coffee shop, sambil membahas Petualangan Semiologi Roland Barthes, edisi lengkap Mein Kampf Adolf Hitler, atau bercerita korupsi besar-besaran oleh bapak-bapak di seberang sana.


Dulu, kalau mendengar program kaderisasi PERSIS, bayangan kita adalah anak muda berpeci yang sibuk membedah kitab klasik Islam di masjid. Sekarang? Betul, mereka tetap membedah kitab, tetapi setelah itu mereka langsung buka laptop, lalu membuat konten visual, layaknya seorang content creator.


Paham Dalilnya, Faham Sistemnya


Kini, bayangkan, belum selesai kita takjub oleh algoritma TikTok yang tahu betul kapan kita butuh hiburan, lalu muncul kecerdasan buatan (AI). Hebatnya, AI sekarang tidak cuma bisa menulis skripsi, atau menyusun hasil penelitian ilmiah, dan diperlombakan,  tetapi juga AI ChatGPT, misalanya, mampu menjawab pertanyaan batal wudu menurut empat imam mazhab.


Bayangkan pula, seorang Barisan Muda PERSISIAN. kini tangan kanannya memegang kitab klasik Islam yang tebal, sedangkan tangan kirinya lincah mengetik kode pemrograman.


Mereka memakai AI bukan untuk malas-malasan, melainkan sedang memetakan satu ayat, secepat kilat, berdasarkan pandangan para ahli tafsir.


Bayangkan pula, seorang mahasiswi Barisan Muda PERSISIAN, yang berhijab, berkerudung, dan seperti sang rembulan bercadar awan, aktif pula merancang Super App (aplikasi serba guna).


Maka, urusan bayar kontrakan rumah, jadwal kuliah, menunaikan zakat, diskusi bulanan, atau bahkan mungkin mencari jodoh yang satu fikrah, cukup dengan hanya menggeser layar telepon di genggaman tangan.


Inti semua itu, mengadopsi teknologi informasi dan komunikasi, yang berpijak pada nilai keagamaan, seperti kehadiran asisten virtual Islam, serta mendorong literasi coding dan AI, bagi Barisan Muda PERSISIAN khususnya, tentu akan berguna untuk menyambut bonus demografi dengan menggelar “karpet merah” peradaban.


Singkatnya, Barisan Muda PERSISIAN saat ini adalah tipe anak muda yang kalau diajak diskusi agama paham dalilnya, kalau diajak diskusi teknologi paham sistemnya, dan tetap asyik kalau diajak ngobrol di warung kopi, meski tanpa topik khusus.


Rumus Pembentukan Kader


Ketua Umum PP PERSIS, K.H. Dr. Jeje Zaenudin, M.Ag. menawarkan enam rumus pembentukan kader, terdiri dari (a) kader rabbani,  (b) kader berilmu dan berpikir kritis, (c) kader berakhlak dan berintegritas, (d) kader profesional dan kompeten, (e) kader mujahid dakwah, dan  (f) kader global berwawasan peradaban manusia.


Keenam rumus kaderisasi ini pantas disambut oleh Barisan Muda PERSISIAN. Ini rumus hulu, kalau boleh disebut begitu, untuk kemudian diterjemahkan di wilayah hilir, jadinya, hilirisasi enam rumus kaderisasi. Pantas ditindaklanjuti, bekal masa depan ketika terjadi alih generasi, dari outgoing generation (generasi senior) ke barisan generasi baru.


Terutama rumus kader global dan berwawasan peradaban manusia, mesti saja bersentuhan dengan teknologi. Harapan besar orang tua (PERSIS), keenam rumus itu jadi ciri khas di setiap individu Barisan Muda PERSISIAN.


Empat pilar Barisan Muda PERSISIAN paling potensial menguasai teknologi informasi dan komunikasi. Sekaligus, ini adalah transformasi strategis untuk mengusung harakah tajdid di era global dan digital.


Pamungkas


Nelson Mandela, dihukum 27 tahun (bukan korupsi, melainkan politik), lalu jadi presiden pertama berkulit hitam di Afrika Selatan (1994-1999). Otak dan sekaligus pejuang anti-Apartheid (politik diskriminasi warna kulit), pecinta batik tulis Indonesia pula.


Saat berkunjung ke Jakarta, tahun 1990, beberapa bulan setelah bebas dari penjara, Mandela diberi hadiah baju batik oleh Presiden Soeharto (kabarnya enam buah).


Di Afrika Selatan, baju batik ini dikenal dengan Madiba Shirt - yang kemudian jadi baju resmi Mandela pada acara-acara nasional dan internasional. Mandela berbicara tentang pemuda, “The youth of today are the leaders of tomorrow (Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan)”.


Kata Presiden Sukarno, kemungkinan diucapkan pada Kongres Pemuda II, di Jakarta, 29 – 31 Mei 1928, ”Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”


Sebuah  hadis sahih yang kita imani, dan perlu kita amini, dicatat oleh Al-Bukhari, dari Abu Hurairah, bahwa ada tujuh kelompok yang akan mendapatkan pertolongan khusus, hari kiamat, pada saat-saat pertolongan itu amat sangat dibutuhkan.


Salah satu tujuh kelompok itu, “Wa syaabbun nasya-a fii ‘ibaadati rabbihi” (Dan pemuda ahli ibadah kepada-Nya).” (Dean Al-Gamereau)


[]

BACA JUGA:

Sunnah sebagai Lifestyle, Identitas Keren Pemuda PERSIS Zaman Now