Umrah Bersama PP PERSISTRI: Menapaki Jejak Shahabiyyah

oleh -

•

13 Oktober 2026 | 17:57

Para jamaah Umrah Bersama PP PERSISTRI

Hindun binti Abu Umayyah: Ummu Salamah, Perempuan Bijaksana dan Teguh Iman


Hindun binti Abu Umayyah radhiyallahu ‘anha lebih dikenal dengan nama Ummu Salamah. Beliau merupakan salah satu istri Rasulullah Saw yang memiliki kisah keteguhan iman, kesabaran, dan kebijaksanaan dalamkehidupan. Ummu Salamahmengalami ujian berat dalam perjalanan hidupnya, termasuk ketika harus berpisah dari keluarganya dalam peristiwa hijrah.


Beliau kemudian menjadi bagian dari masyarakat Muslim di Madinah dan memperoleh kedudukan sebagai salah satu Ummahatul Mukminin, yaitu para ibu kaum beriman. Salah satu peristiwa yang sering dibahasdalam sirah adalah Perjanjian Hudaibiyah.


Ketika para sahabat menghadapi keadaan yang berat setelah perjanjian tersebut, Ummu Salamah memberikan saran kepada Rasulullah Saw agar beliau memulai pelaksanaan tahallul, sehingga para sahabat dapat mengikuti tindakan beliau.


Riwayat tentang peristiwa ini tercantum dalam Shahih al-Bukhari. Kisah tersebut menunjukkan bahwa kebijaksanaan, ketenangan, dan kemampuan membaca keadaan merupakan sifat yang sangat berharga. Allah SWT berfirman:


وَالَُلّ يُ ,حب الصَّا ,ب ,رينَ


Artinya: “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 146)


Kesabaran bukan berarti pasif atau membiarkan persoalan tanpa usaha. Kesabaran juga mencakup kemampuan menjaga ketenangan, berpikir dengan jernih, dan mengambil langkahyang tepat ketika menghadapi kesulitan. Dalam perjalanan umrah, keteladanan Ummu Salamah dapat diterapkan ketika jamaah menghadapi kepadatan, perubahan jadwal, kelelahan, atau perbedaan pendapat.


Keadaan seperti itu membutuhkan kedewasaan, komunikasi yang baik, dan kesediaan mencari solusi. Bagi organisasi, kisah Ummu Salamah juga mengajarkan bahwa masukan yang bijaksana dapat memberikan manfaat besar. Perempuan yang berilmu dan matang dalam mengambil keputusan dapat memberikan kontribusi penting bagi keberhasilan sebuah kegiatan.


Nusaibah binti Ka'ab: Keteguhandan Keberanian Membela Kebenaran


Nusaibah binti Ka'ab radhiyallahu ‘anha, yang dikenal sebagai Ummu ‘Umarah, adalah salah satu shohabiyah yang dikenang karena keberaniannya dalam Perang Uhud. Dalam riwayat sirah, beliau disebut turut melindungi Rasulullah Saw ketika keadaan pertempuran menjadi sangat genting. Kisah Nusaibah mengingatkan kita bahwa keimanan tidak selalu diuji dalam keadaannyaman.


Ada saatnya seseorang harus berkorban, mengambil tanggung jawab,dan tetap teguh ketika menghadapi keadaan yang sulit. Allah SWT berfirman:


 ,إن ال ,ذين قالوا ربنا اللّ ثم استقاموا


Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata,‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudianmereka tetap istiqamah.” (Q.S. Fussilat [41]: 30)


Ayat ini mengingatkan pentingnya istiqamah setelah menyatakan keimanan. Dalam kehidupan sekarang, keberanian perempuan beriman dapat diwujudkan melalui usaha mempertahankan kebenaran dengan cara yang sesuai syariat, mendidik keluarga dalam kebaikan, menolak perilaku yang merugikan, dan bersungguh-sungguh dalam pengabdian kepada masyarakat.


Bagi para penggerak PERSISTRI, perjuangan tersebut dapat diwujudkan melalui pendidikan, pembinaan, pelayanan sosial, serta dakwah yang dilakukan dengan ilmu dan akhlak. Kita tidak sedang menghadapi medan perang seperti pada masa para sahabat. Karena itu, keteladanan Nusaibah perlu diterapkan sesuai keadaan masa kini, dengan tetap menjunjung kedamaian, tanggung jawab, dan ketentuan agama.


Nusaibah mengajarkan bahwa perempuan beriman tidak harus menjadi orang yang paling terkenal untuk memberikan kontribusi. Yang terpenting adalah ketulusan, keberanian melakukan kebaikan, dan kesediaan menunaikan amanah.


Shafiyyahbinti Abdul Muthalib: Keteguhan Hati dan Keberanian


Shafiyyah binti Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anha adalah bibi Rasulullah Saw dan salah satu perempuan sahabat yang dikenal memiliki keberanian serta keteguhan. Beliau merupakan ibu dari Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Rasulullah Saw yang terkenal.


Dalam sejumlah riwayat sirah, Shafiyyahdisebut memiliki perandalam Perang Khandaq ketika menghadapi ancaman terhadapkelompok perempuan dan anak-anak yang berada di tempat perlindungan. Kisah beliau mengingatkan bahwa menjaga keluarga dan melindungi orang-orang yang berada dalam tanggung jawab kita merupakan bagian dari amanah. Allah SWT berfirman:


يا أيها ال ,ذين آمنوا قوا أنفسكم وأه ,ليكم نارا


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman!Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (Q.S. At-Tahrim [66]: 6)


Ayat ini mengingatkan orang beriman tentangtanggung jawab menjaga diri dan keluarga melalui ketaatan kepada Allah. Menjaga keluarga bukan hanya memenuhi kebutuhan materi. Tanggung jawab tersebut juga meliputi pendidikan agama, pembentukan akhlak, perhatian kepada anak-anak, serta upaya menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung kebaikan.


Dalam konteks PERSISTRI, kisah Shafiyyah mengingatkan pentingnya membangun perempuan yang kuat secara iman dan matang dalam menjalankan amanah keluarga. Keteguhan bukan berarti bersikap keras tanpa pertimbangan.


Keteguhan adalah kemampuan bertahan dalam kebaikan, mengambil keputusan yang bertanggung jawab, dan menjaga nilai agama di tengah berbagai tantangan. Semoga perjalanan Menapaki Jejak Shohabiyah menguatkan tekad para jamaah untuk membangun keluarga yang beriman, saling menguatkan dalam kebaikan, dan menjadi sumber ketenteraman bagi anggotanya.


Maimunahbinti Al-Harits: Kedermawanan dan Ketakwaan


Maimunah binti Al-Harits radhiyallahu ‘anha merupakan salah satu istriRasulullah Saw dan termasuk Ummahatul Mukminin. Beliau dikenal dalam sejarah sebagai perempuan yang memiliki perhatian terhadap kebaikan dan hubungan sosial. Riwayat-riwayat mengenai kehidupannya memberikan gambaran tentang kedudukannya sebagai bagian dari keluarga Rasulullah Saw dan kehidupan masyarakat Muslim pada masa itu.


Dalam meneladani Maimunah, penting untuk membedakan antara peristiwa yang memiliki dasar riwayat kuat dan gambaran umum yang disampaikan dalam literatur sejarah. Tidak setiap kisah populer tentang tokoh sejarah dapat langsung dipastikan kesahihannya. Pelajaran yang dapat kita ambil adalah pentingnya menjalani kehidupan dengan ketakwaan, menjaga hubungan baik, dan memanfaatkan apa yang kita miliki untuk kebaikan. Allah SWT berfirman:


لن تنالوا ال.,ب حن تن ,فقوا ,مما ت ,حبون


Artinya: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagianharta yang kamu cintai.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 92)


Ayat ini mengajarkan bahwa kebaikan dapat diwujudkan melalui kesediaan berbagi dan berkorban. Dalam kehidupanorganisasi, kedermawanan tidak selalu berartimemberikan sesuatu dalam jumlah besar. Ia dapat diwujudkan dengan menyumbangkan waktu, tenaga, ilmu, perhatian, dan kemampuan untuk membantu orang lain.


Demikian pula dalam perjalanan umrah, kepedulian dapat diwujudkan dengan membantu jamaah yang membutuhkan, menjaga kenyamanan bersama, dan menghormati orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik. Perjalanan ibadah menjadi semakin bermakna ketika kesalehan pribadi disertai kepedulian sosial.


Menyatukan Keteladanan Para Shohabiyah dalam Kehidupan PERSISTRI


Setelah mengenal para perempuan tersebut,kita melihat bahwa setiap tokoh memiliki sisi keteladanan yang berbeda. Khadijah mengajarkan ketulusan mendukung dakwah. Asma binti Abu Bakar memberikan pelajaran tentang keberanian dan amanah. Aisyah menegaskan pentingnya ilmu.


Ummu Salamah menunjukkan kebijaksanaan dan kesabaran. Nusaibah menginspirasi keteguhan. Shafiyyah mengingatkan tanggung jawab melindungi keluarga. Maimunah memberikan ruang untuk merenungkan ketakwaan ķepedulian.


Semua kisah ini dapat menjadibahan refleksi bagi perempuan masa kini. Kita tidak harus hidup dalam situasi yang sama denganmereka untuk mengambilpelajaran dari keteladanan mereka. Allah SWT berfirman:


فاست ,بقوا الخبْا,ت


Artinya: “Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (QS.. Al-Baqarah [2]: 148)


Bagi anggota PERSISTRI, berlomba dalam kebaikan dapat diwujudkan melalui kesungguhan menuntut ilmu, membangun keluarga yang berlandaskan iman, memperluas dakwah, mengembangkan pelayanan sosial,dan menjaga persaudaraan.


Organisasi bukan hanya tempat berkumpul, melainkan juga sarana untuk menyatukan potensi dan memperluas manfaat. Ketika setiap anggota berkontribusi dengan ikhlas dan sesuai kemampuannya, kebaikan dapat menjangkau lebih banyak orang. Semoga perjalanan umrah ini menjadi momentum untuk memperkuat kembali tekad tersebut.

BACA JUGA:

PERSISTRI Nilai Transformasi Gerakan PERSIS Berjalan Pesat: Kuatkan Ekonomi untuk Dorong Kemandirian Jamiyyah

Reporter: - Editor: Fia Afifah Rahmah