Jaminan Kesehatan sebagai Hak Masyarakat dan Amanah Kepemimpinan
Elemen kedua dalam hadis tersebut adalah “mu‘āfan fī jasadih”—sehat badannya. Kesehatan dalam Islam dipandang sebagai nikmat sekaligus amanah. Tubuh yang sehat memungkinkan manusia menjalankan fungsi kekhalifahan di bumi, beribadah dengan optimal, dan berkontribusi secara produktif dalam kehidupan sosial.
Perspektif kenabian tidak memandang kesehatan sebagai urusan personal semata. Dalam banyak hadis, Nabi Saw menekankan pentingnya pencegahan penyakit, kebersihan, pola hidup seimbang, dan kepedulian terhadap orang sakit. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan adalah tanggung jawab kolektif yang memerlukan sistem pendukung sosial.
Prinsip ini sangat selaras dengan SDG 3: Good Health and Well-being, yang bertujuan menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi semua usia.
SDG 3 menekankan akses layanan kesehatan, pencegahan penyakit menular dan tidak menular, serta kesehatan ibu dan anak. Perspektif kenabian menambahkan dimensi etik: kesehatan bukan sekadar indikator statistik, tetapi hak asasi yang harus dijaga dengan keadilan dan empati.
Dalam konteks kebijakan publik, ajaran kenabian menegaskan bahwa negara berkewajiban menyediakan sistem kesehatan yang inklusif dan terjangkau. Kesehatan yang terjamin akan memperkuat kualitas sumber daya manusia dan mempercepat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan secara keseluruhan.
Pangan sebagai Basis Keberlangsungan Hidup
Elemen ketiga yang disebutkan Nabi Saw adalah “‘indahu qūta yawmih”—memiliki kecukupan pangan untuk hari itu. Menariknya, hadis ini tidak menekankan kelimpahan atau kemewahan, melainkan kecukupan. Konsep kecukupan ini menunjukkan paradigma keadilan distributif, di mana setiap individu memiliki akses terhadap kebutuhan pokok tanpa harus hidup dalam kelaparan.
Dalam Islam, pangan merupakan hak dasar manusia. Banyak ajaran kenabian yang mengecam praktik penimbunan, ketidakadilan distribusi, dan pembiaran terhadap kelaparan. Pangan tidak dipandang semata sebagai komoditas ekonomi, tetapi sebagai amanah sosial yang harus dikelola secara adil dan berkelanjutan.
Hal ini sejalan dengan SDG 2: Zero Hunger, yang bertujuan mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan, dan mendorong pertanian berkelanjutan. SDG 2 menyadari bahwa kelaparan bukan hanya persoalan produksi, tetapi juga distribusi, akses, dan kebijakan.
Perspektif kenabian memperkaya SDG 2 dengan pendekatan moral: ketahanan pangan harus dibangun di atas prinsip keadilan, solidaritas, dan keberlanjutan. Negara dan masyarakat dituntut untuk memastikan bahwa tidak ada individu yang terpinggirkan dari akses pangan yang layak.
Integrasi Keamanan, Kesehatan, dan Pangan dalam Kerangka SDGs
Hadis Nabi Saw tentang keamanan, kesehatan, dan pangan dapat dipahami sebagai formula kesejahteraan manusia yang bersifat holistik. Ketiganya saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.
Keamanan memungkinkan sistem kesehatan dan distribusi pangan berjalan; kesehatan memungkinkan manusia produktif dan mandiri; sementara pangan memastikan keberlangsungan hidup dan stabilitas sosial.
Dalam kerangka SDGs, integrasi ketiga aspek ini menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh bersifat sektoral dan terfragmentasi. Pendekatan kenabian mendorong pembangunan yang berorientasi pada manusia (human-centered development), di mana kebijakan dirancang untuk menjamin martabat dan kesejahteraan setiap individu.
Dengan demikian, nilai-nilai kenabian dapat berfungsi sebagai landasan etik bagi implementasi SDGs, khususnya di masyarakat Muslim. SDGs tidak hanya menjadi agenda teknokratis, tetapi juga gerakan moral yang berakar pada nilai keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial.
Penutup
Hadis Nabi Muhammad Saw tentang keamanan, kesehatan, dan pangan menunjukkan bahwa Islam telah lama merumuskan indikator kesejahteraan manusia yang relevan dengan tantangan pembangunan modern.
Konsep amīnan dalam perspektif kenabian menegaskan bahwa kesejahteraan bukan sekadar hasil pertumbuhan ekonomi, tetapi buah dari tata kelola sosial yang adil dan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar.
Dalam konteks SDGs, perspektif kenabian memberikan legitimasi moral dan spiritual bagi upaya pembangunan berkelanjutan. Integrasi nilai-nilai ini tidak hanya memperkuat implementasi SDGs, tetapi juga memastikan bahwa pembangunan berjalan selaras dengan martabat dan tujuan kemanusiaan.
Dengan demikian, keamanan, kesehatan, dan pangan bukan hanya target pembangunan, melainkan amanah peradaban yang harus dijaga bersama.
[]
BACA JUGA:Sukses Haji! Bimhajum PP PERSIS Minta Jemaah Kloter 19 Kab. Ciamis Fokus Ibadah dan Jaga Kesehatan