Di Tegallega 1938, PERSIS Sudah Gelar Salat Id di Lapangan: Ini Jejak Sejarahnya

oleh Henri Lukmanul Hakim

20 Maret 2026 | 12:38

Ilustrasi penyelenggaraan Salat Id di lapangan, yang sudah lama dipraktekkan oleh PERSIS. (Foto: Henri Lukmanul Hakim)

Bandung, persis.or.id – Pelaksanaan salat Id di lapangan kini menjadi pemandangan yang lazim di berbagai daerah. Namun, tradisi tersebut ternyata telah lama dijalankan oleh Persatuan Islam (PERSIS), bahkan sejak 1938 di Lapangan Tegallega, Bandung.


Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi (Infokom) Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS), Ustaz Dr. Ihsan Setiadi Latief, menjelaskan, pelaksanaan salat Id di lapangan oleh tokoh-tokoh PERSIS memiliki akar sejarah yang panjang dan penuh tantangan.


Menurutnya, praktik tersebut bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari ikhtiar menghidupkan sunnah Rasulullah SAW.


“Pelaksanaan salat Id di lapangan yang dijalankan PERSIS bukan hal baru. Jejak sejarahnya sudah ada sejak 1938 di Lapangan Tegallega, Bandung, sebagai bagian dari ikhtiar menghidupkan sunnah Rasulullah SAW,” ujar Ustaz Dr. Ihsan ketika dimintai keterangannya, Kamis (19/3/2026).


Ia menambahkan, pada 1938, salat Id di Lapangan Tegallega pertama kali dilaksanakan oleh Tuan Ahmad Hassan dan E. Abdurahman.


Pelaksanaan saat itu berlangsung dalam suasana mencekam karena adanya penolakan dari pihak-pihak yang menentang gerakan kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis.


Mengacu pada keterangan Encang Saefuddin dalam buku Metode Istinbath al-Ahkam KH. E. Abdurahman (2000), disebutkan bahwa E. Abdurahman dan Ahmad Hassan melaksanakan salat Id di Tegallega dengan penjagaan polisi bersenjata.


“Saat itu, pihak yang menentang bahkan menyebarkan ancaman dan fitnah. Banyak warga datang, termasuk dengan delman, untuk menyaksikan apa yang kala itu disebut sebagai ‘lebaran Wahabi’, sehingga jumlah penonton disebut lebih banyak daripada jamaah salat Id,” ungkap dia.


Sejarah juga mencatat, pelaksanaan salat Id di lapangan oleh PERSIS terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.


Dalam catatan yang diberitakan AID De Preangerbode edisi 1 September 1952, salat Iduladha di Lapangan Tegallega, Bandung, dipimpin oleh Ustaz E. Abdurahman sebagai khatib. Meski saat itu hujan mengguyur Kota Bandung, ribuan jamaah tetap melaksanakan salat Iduladha.


Menariknya, pelaksanaan salat Id tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat penting, di antaranya Gubernur Jawa Barat R. Sanoesi Hardjadinata, Wali Kota Bandung R. Enoeh, dan Bupati Bandung R. Male Wiranatakoesoema.


Kehadiran para pejabat itu menunjukkan bahwa pelaksanaan salat Id di lapangan mendapat perhatian luas dari masyarakat dan pemerintah pada masa itu.


Dr. Ihsan menegaskan, pelaksanaan salat Id di lapangan sejalan dengan sunnah Rasulullah SAW. Hal itu merujuk pada hadis dari Abi Sa’id yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW keluar pada Idulfitri dan Iduladha menuju mushala atau lapangan.


“Apa yang hari ini dianggap lazim, yaitu salat Id di lapangan, sesungguhnya telah diperjuangkan tokoh-tokoh PERSIS sejak puluhan tahun lalu. Ini adalah bagian dari semangat untuk meneladani praktik ibadah yang dicontohkan Rasulullah SAW,” katanya.


[]

BACA JUGA:

Hukum Salat Jumat yang Bertepatan dengan Hari Raya dan Status Shalat Zuhur ketika Mengambil Rukhshah tidak Salat Jumat