Membangun Umat yang Kuat Melalui Persatuan
Allah berfirman, “Berpeganglah kalian semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” Ayat ini seperti dihidupkan kembali setiap Ramadhan.
Di sinilah umat diajak untuk menatap masa depan dengan visi bersama: membangun masyarakat yang adil, harmonis, dan penuh kasih sayang.
Ramadhan mengajarkan bahwa kekuatan umat tidak lahir dari banyaknya jumlah, tetapi dari kuatnya persatuan. Solidaritas menjadi benteng yang menjaga umat dari perpecahan, konflik, dan kelemahan.
Ketika setiap individu merasa bertanggung jawab terhadap nasib saudaranya, maka umat akan kokoh seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.
Dalam sejarah, banyak kemenangan besar terjadi di bulan Ramadhan. Badr, Fathu Makkah, dan berbagai momentum kejayaan lainnya menjadi saksi bahwa ketika hati-hati bersatu dalam iman, Allah memberikan pertolongan-Nya. Ramadhan hadir untuk mengingatkan bahwa masa depan umat dapat kembali cerah jika solidaritas tetap dijaga.
Merangkai Kekuatan dari Bulan yang Penuh Cahaya
Ramadhan bukan sekadar rangkaian hari yang datang dan pergi. Ia adalah madrasah kehidupan, tempat jiwa ditempa, hati disucikan, dan hubungan sosial diperbaiki. Solidaritas adalah mahkota yang dipersembahkan Ramadhan bagi siapa yang mampu menghidupkannya.
Ketika kita menyambut bulan ini dengan hati yang terbuka, kita sedang membuka pintu bagi lahirnya masyarakat yang lebih peduli, lebih bersatu, dan lebih kuat.
Ramadhan mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki peran untuk menghadirkan cahaya: cahaya empati, cahaya kasih sayang, cahaya kebaikan.
Semoga Ramadhan tahun ini menjadi titik balik bagi kita untuk meneguhkan kembali nilai-nilai kebersamaan, mempererat ukhuwah, dan memperkuat solidaritas—hingga selepas Ramadhan, jiwa kita tetap bercahaya, dan masyarakat kita menjadi lebih damai serta penuh rahmat.
[]
BACA JUGA:Distribusi Program Berkah Ramadhan LAZ PERSIS Menjangkau 21 Provinsi